Articles

Jurnal Pengantin Kristus

Sekapur Sirih

SEKILAS PANDANG HERMENEUTIKA
Biblika – Komprehensif - Profesional

PENDAHULUAN
Dunia pendidikan Kristen memiliki banyak topik yang tidak pernah habis diteliti, dibahas, didiskusikan, bahkan diperdebatkan sampai hari ini. Salah satunya perdebatan tentang iman dan rasio. Ada yang mendukung pemahaman bahwa keduanya berbeda dan harus dipertentangkan sehingga frasa yang digunakan adalah iman versus rasio. Ada juga yang melihat bahwa di dalam perbedaan tersebut seharusnya iman bekerja sama dengan rasio secara seimbang. Ada yang berprinsip bahwa iman harus mendukung rasio, atau sebaliknya. Namun ada juga yang mendukung pemahaman bahwa iman sama dengan rasio.

Hal menarik untuk dicermati para pendidik Kristen adalah setiap kelompok menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mendukung keyakinannya. Artinya, setiap kelompok menggunakan satu buku sumber yang sama. Namun mengapa tetap nyata ada perbedaan signifikan? Mengapa setiap kelompok dengan yakin menegaskan bahwa cara pandangnya terhadap Alkitab adalah paling benar? Apakah ada masalah dengan pemahaman atau metode hermeneutika yang dipergunakan? Lalu bagaimana peran Roh Kudus yang diyakini orang Kristen telah mengilhami para penulis Alkitab?

Adalah wajar kalau orang Kristen mengetahui adanya Gereja Universal. Namun sampai dimana tingkat pengenalan dan pemahaman serta keyakinan – iman – orang Kristen yang secara pragmatis dapat diwujudkan dalam keseharian hidup tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) yang seringkali "dibuang" dalam gudang bernama "rencana" tanpa ada tenggatnya.
Sejarah Gereja membuktikan bahwa pemahaman kelompok ekstrem bermuara pada praktik perpisahan secara nyata. Bahkan keterpisahan tersebut sering diwujudkan dengan garis tegas antara benar versus salah, teman versus musuh, atau murni versus sesat. Kalau asumsi awal yang dipakai bertujuan menunjukkan benar dan salah semata, maka daftar panjang perpisahan – atau dengan kata yang lebih vulgar "perpecahan" – gereja akan menjadi bertambah panjang.
Artikel yang pada intinya membahas hal pemahaman Alkitab (hermeneutika) ini ditulis dengan tujuan memotivasi setiap pemimpin Kristen – para penatua/pendeta, diaken, dan majelis – untuk senantiasa meneliti Alkitab. Wahyu Allah secara tertulis – Alkitab – merupakan suatu kesatuan utuh yang terdiri dari 39 buku Perjanjian Lama dan 27 buku Perjanjian Baru. Kesatuan yang diyakini adalah karya Allah, karena setiap maksud Allah telah dinafaskan (diilhamkan) Allah oleh Roh-Nya kepada lebih dari 40 manusia penulis Alkitab dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun.
Oleh sebab itu STTIA menyatakan imannya di dalam Visinya menggunakan kalimat Biblika yang Komprehensif dan Profesional. Harry Sudarma menyatakan dengan tegas kepada para mahasiswa bahwa Alkitab adalah 1 (satu) buku yang terdiri dari 66 bab. F. G. van Gessel mengungkap-kan keutuhan Alkitab dalam ikhtisarnya hal Pengajaran Tabernakel dan Mempelai melalui penelitian lebih dari 20 tahun terhadap Alkitab yang satu hal yang sama dari atas mimbar, yaitu Alkitab adalah firman Tuhan yang utuh.
Kalau ditinjau dari sisi waktu dan jumlah maka meneliti 66 bab Alkitab secara komprehensif membutuhkan komitmen dan ketekunan belajar yang tinggi. Bagi sebagian pemimpin Kristen mungkin berpikir bahwa itu idealis atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Namun sudah ada keyakinan dasar bahwa wahyu (penyataan) Allah bersifat progresif. Artinya Allah ingin kita belajar mengenal-Nya secara kontinu. Ini suatu proses seumur hidup yang terus meningkat dalam tahap demi tahap, sesuai kehendak Tuhan.
Berdasarkan pemahaman tersebut, artikel ini bermaksud menjelaskan secara sederhana betapa pentingnya melihat Alkitab secara komprehensif dengan mulai dari bagian kecil Alkitab sebagai pokok pembahasan, yaitu sesuai konteksnya dan dibatasi maksimum 2 pasal. Sumber utama yang digunakan adalah Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB) terbitan LAI, 1974. Pemilihan sumber utama ini didasarkan pada konteks di mana Jurnal STTIA ini diedarkan, yaitu Indonesia. Dengan demikian diharapkan para pembaca dapat mengerti maksud setiap penulis Jurnal. Sekaligus termotivasi untuk selanjutnya menulis pertanyaan, mendiskusikan sebuah topik, termasuk mengritik kalimat-kalimat yang tidak Biblika-Komprehensif.


LANDASAN TEORI
Bernard Ramm sangat dikenal oleh para sarjana teologi sebagai penulis yang luar biasa di zamannya, khususnya dalam hal interpretasi Alkitabiah. Bukunya yang sangat terkenal, "Protestant Biblical Interpretaion," sudah menjadi warisan berharga bagi para sarjana yang ingin menyelidiki Alkitab secara tepat. Buku yang ditulis tahun 1956 itu ditujukan secara luas kepada seluruh pembaca Alkitab. Namun, perubahan dalam cara teks dipahami telah menjadi sebuah bencana dalam waktu singkat sejak Ramm menulis bukunya tersebut. Hampir setiap asumsi yang dibuat Ramm telah diragukan dan diuji oleh angin baru kemodernan dan pasca modern. Tantangan itu masih tetap ada dan terus berkembang pada masa milenium ini.1
Dalam ranah pendidikan teologi, penafsiran Alkitab lebih dikenal dengan istilah hermeneutik dan menjadi salah satu mata kuliah wajib. Sangatlah penting untuk menerapkan prinsip-prinsip hermeneutika yang benar dalam menafsirkan Alkitab sehingga dapat diperoleh makna yang sejati. Pernyataan itu memberikan standar baku bahwa untuk menafsirkan Alkitab kita harus mempelajari prinsip-prinsip hermeneutik. Namun Moisés Silva mengungkapkan fakta penting dalam bab "Who Needs Hermeneutics Anyway?" bahwa kita membutuhkan hermeneutik untuk teks lain di luar Alkitab.2 Sesungguhnya kita butuh prinsip-prinsip penafsiran untuk mengerti percakapan yang paling sederhana dan peristiwa tanpa bahasa sekalipun, sebab kegagalan dalam memahami kedipan mata seseorang dapat menimbulkan bencana pada kondisi tertentu.
Selanjutnya Moisés juga membawa kita berpikir mengapa perlu membawa hermeneutik pada tingkat kedua – berkaitan dengan pendidikan tertentu – sedangkan kita hampir selalu mengerti apa yang tetangga kita ceritakan kepada kita? Jawaban Moisés sangat sederhana, yaitu kita sudah diajarkan hermeneutik sepanjang umur hidup kita, bahkan sudah dimulai sejak hari kita dilahirkan. Hasan Susanto menulis dalam bukunya bahwa penafsiran juga sering dilakukan secara sadar atau tidak sadar pada apa yang dilihat dan didengar seseorang.3 Contohnya, seorang pengemudi di jalan raya melihat tanda yang berbunyi: "Awas! Lubang, 200 meter!" Dia akan segera menafsir apa yang dilihatnya: Apakah rambu ini masih berlaku? Apakah peringatan ini berarti 200 meter lagi ada lubang? Apakah ini berarti sepanjang 200 meter ada lubang? Contoh seperti ini tak terhitung banyaknya, bahkan termasuk saat kita membaca surat kabar atau mendengar suatu kisah atau sedang menganalisa sebuah kejadian.
Penulis merasa perlu memberi penjelasan di atas supaya para pembaca, khususnya dari kalangan GPT (Gereja Pentakosta Tabernakel) memahami bahwa sebenarnya penerapan prinsip-prinsip hermeneutika dalam penafsiran Alkitab bukanlah sesuatu yang tabu, mistik, atau sulit untuk dilakukan, sebab hal itu sudah kita praktikkan dalam hidup sehari-hari. Namun para hamba Tuhan seringkali berasumsi bahwa untuk menafsirkan Alkitab harus menjalani prosedur yang rumit, susah, dan membosankan. Sebaliknya justru penerapan prinsip-prinsip hermeneutika adalah suatu seni yang memberi sukacita tersendiri dalam hidup si penafsir.
Namun perlu dicermati fakta yang diungkapkan Donald Smith dalam bukunya "Creating Understanding" hal komunikasi yang bersifat lintas budaya pada tingkatan tertentu.4 Di mana budaya tersebut menurut Smith adalah cara kita mengelola pengalaman kita untuk mengembangkan pandangan hidup, nilai-nilai, keyakinan, kerangka kerja sosial, dan pola tingkah laku.
Berdasarkan fakta tersebut maka dapat dipahami mengapa akhirnya muncul berbagai bentuk atau metode penafsiran. Latar belakang penafsir sedikit banyak mempengaruhi pandangannya terhadap Alkitab, sehingga penafsirannya sangat ditentukan oleh seberapa banyak prosentase praanggapan seorang penafsir mengambil alih akal budinya. Beberapa di antaranya dapat kita lihat di bawah ini.
Harfiah5
Model penafsiran yang populer pada masa Yunani-Romawi ini banyak ditemukan dalam karya sastra para rabi, dimana Alkitab mereka dipahami dengan makna jelas, sederhana dan natural, khususnya untuk menerapkan peraturan-peraturan yang tercantum dalam kitab Ulangan. Penafsiran ini bersifat kaku, setiap huruf perlu diperhatikan karena tercantum dalam Taurat, bahkan keberadaan titik koma pun menjadi standar baku. Kelompok ini sangat berguna untuk menganalisis salinan kuno Perjanjian Lama.
Midrash6
Ini merupakan inti penafsiran yang dilakukan oleh para rabi. Midrash pada dasarnya berupaya menembus ke lapisan yang lebih dalam dari Alkitab untuk menyelidikinya dari berbagai sudut dan menemukan makna yang tidak segera terbaca. Sebetulnya sebagian dari prinsip-prinsip ini cukup baik tetapi demi beroleh makna yang lebih dalam, para rabi tidak berhenti pada prinsip-prinsip ini. Seringkali mereka melangkah lebih jauh sehingga memberi makna kepada sebuah kata tanpa memperhatikan konteksnya, atau menggabungkan bagian-bagian yang mencantumkan kata yang sama tanpa memperhatikan apakah kata-kata ini mempunyai ide yang sama. Akhirnya penafsiran demikian sering memberi penjelasan yang kurang sesuai dengan maksud penulis Alkitab itu sendiri.
Pesher7
Sesuai dengan namanya, penafsiran dalam kitab gulungan komunitas Qumran biasanya dimulai dengan kata pesher. Ciri penafsiran ini adalah motif eskatologis, dimana ada anggapan bahwa mereka adalah komunitas pilihan Allah yang hidup pada zaman susah mesianik sebelum tibanya akhir zaman. Penekanan mereka pada aplikasi nyata suatu nubuat dalam Alkitab telah membuat kelompok ini tidak hanya berdasarkan Alkitab tetapi juga pada ilham khusus, ilham istimewa kepada orang tertentu, sehingga penafsiran mereka lebih condong kepada corak mistis dan lebih ketat, dan bersandar kepada pen-jelasan pemimpin mereka, guru keadilan.8
Alegoris
Penafsiran Alegoris adalah sebuah model tafsir yang populer pada Abad Pertama hingga Abad Pertengahan. Di kalangan Rabi-rabi Yahudi, model ini merupakan salah satu alternatif model tafsir, selain penafsiran Harfiah, Midrash, dan Pesher.9
Metode alegori adalah mengatakan satu hal dan mengartikan sesuatu yang lain dari apa yang dikatakan, mencari arti yang tersembunyi di balik setiap kata dalam Alkitab dan memperluas arti tersebut sedemikian jauhnya sehingga sangat berbeda dengan arti normalnya, tata bahasanya, terlepas dari konteksnya, tidak memperhatikan sejarah/latar belakangnya, dan tidak dapat dibuktikan secara teologis.
Penafsiran yang dipengaruhi oleh budaya Yunani ini, khususnya dikem-bangkan oleh filsuf Stoa, juga dipraktikkan oleh orang Yahudi, salah satunya yang terkenal adalah Philo.10 Tujuannya sebenarnya baik, yaitu untuk membela teologi orang Yahudi di depan filsafat Yunani dan agar Alkitab relevan bagi orang yang sezaman dengannya. Itulah sebabnya dia membaca Alkitab sebagai kumpulan simbol yang berguna untuk kerohanian dan moral manusia. Pra anggapan semacam ini membuat Philo berpendapat makna harfiah hanya bagi mereka yang belum memiliki daya pikir yang dewasa. Jadi makna harfiah ibarat tubuh jamaniah Alkitab, sedangkan makna alegoris, yaitu makna yang terbenam di bawah makna harfiah, adalah sama seperti roh atau jiwa Alkitab.
Penafsir yang menganut paham ini akan memaksakan sesuatu makna ke dalam paragraf, padahal makna tersebut tidak pernah dimaksudkan oleh penulisnya. Contoh: Sejumlah orang berpendapat, 144.000 orang Israel dalam Wahyu 7 itu sama dengan gereja Kristus (band. L. Morris, The Revelation of St. John, p. 114).11
Wakkary mendukung penafsiran Offiler sebagai suatu yang sangat luar biasa, sekalipun bersifat alegoris.12 Perhatikan pernyataan beliau berikut ini.
Sebagian teologi gereja-gereja Pantekosta berbasis pada bukunya W.H. Offiler: "God And His Bible or The Harmonies of Divine Relevation" yang dicetak pada tahun 1946, tetapi sudah diajarkan sejak Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1935. Dalam bukunya itu kita dapat mempelajari hasil iluminasi Roh Kudus yang membuahkan terungkapnya rahasia-rahasia Alkitab yang berjumlah seki-tar 90 pokok pelajaran, antara lain: Peta Zaman, Penyingkiran Gereja, 144.000, Minggunya Tuhan, Kedatangan Tuhan Yesus Kedua Kali, Rahasia Besar dan banyak lagi. Luar biasa iluminasi yang diperoleh Pastor W.H. Offiler.... Bukunya itu luar biasa! Suatu hasil dari studi Alkitab hampir limapuluh tahun dengan doa puasa serta berdiam diri menunggu Tuhan.
Rasionalistik13
Penafsir selalu menjelaskan Alkitab sebegitu rupa sehingga pernyataannya selalu selaras dengan jalan pikiran orang duniawi. Contoh: Mukjizat dan tanda ajaib dijelaskan agar masuk akal. Pemberian makan kepada lima ribu orang ditafsirkan sebagai berikut. Sikap murah hati anak kecil itu telah menjadi teladan, sehingga mendorong orang-orang itu mengeluarkan makan siangnya yang disembunyikan. Dengan demikian tersedia makanan yang cukup untuk semua (tafsiran aliran Liberal Lama).
Mitologis14
Unsur kebenaran sejarah yang berasal dari sejarah asli dibuang. Kesemuanya itu dianggap sebagai mitos yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran spiritual yang penting. Contoh: Banyak teolog modern menganggap kebangkitan Kristus bukan peristiwa sejarah yang sungguh-sungguh. Peristiwa itu hanyalah mitos yang digunakan untuk mengajarkan kebenaran rohani penting: meskipun Yesus secara jasmani telah dibantai, tetapi Ia masih hidup secara rohani. Bila seseorang telah berhasil memahami kebenaran pokok ini, maka ia dapat saja membuang "cerita" yang digunakan untuk menyampaikan kebenaran tersebut.
Teks Terisolir15
Dalam metode ini penafsir memperlakukan Alkitab sebagai kumpulan ayat yang berdiri sendiri. Setiap ayat dapat ditafsirkan lepas dari kaitannya dengan konteks, baik dekat maupun jauh. Contoh: Yakobus 1:5 seringkali ditafsirkan sebagai ayat menjanjikan hikmat yang mencakup segala keperluan. Padahal, hikmat yang dimaksudkan di sini adalah berkenaan dengan kemam-puan yang diperlukan dalam menghadapi pencobaan dalam kehidupan setiap hari. Dengan hikmat itu orang percaya dapat menyatakan sikap hidup yang benar.
Dogmatis16
Penafsir memulai dengan menetapkan keyakinan pribadinya, kemudian ia mencari ayat pendukungnya. Metode ini sering digabungkan dengan metode teks terisolir. Untuk menyokong idenya, seringkali ayat pendukung itu dicabut begitu saja dari konteksnya. Contoh: Gereja Roma Katolik selalu menggunakan Matius 16:18-19 untuk menyokong dogma mereka bahwa Petrus adalah Paus pertama.
Historis Murni17
Penafsir memperlakukan Alkitab sebagai kitab sejarah yang menarik. Namun ia sedikit atau tidak memiliki tujuan atau penerapan rohani sama sekali. Contoh: Ada yang merasa kitab Kisah Para Rasul semata-mata sebagai cerita sejarah yang menelusuri perkembangan gereja mula-mula.
Paragraf Sejajar18
Penafsir memperlakukan Alkitab sebagai kumpulan tebaran ayat-ayat silang. Ia yakin setiap paragraf Alkitab ditafsirkan oleh ayat sejajar di sesuatu tempat dalam Alkitab. Memang tidak salah untuk menyelidiki ayat sejajar dan ayat-silang; tetapi menjadi salah bila makna sesuatu paragraf diterapkan ke ayat lain, sebelum keduanya diselidiki lewat proses eksegesis dengan tuntas. Contoh: Sejumlah orang menganggap ajaran Yakobus tentang iman dan perbuatan bertentangan dengan ajaran Paulus mengenai pembenaran oleh iman. Mereka gagal memahami, Yakobus tidak sedang membahas cara seseorang dibenarkan (seperti yang ditekankan oleh Paulus), tetapi ia menegaskan iman itu hidup dan menghasilkan perbuatan baik.
Literal Kaku19
Penafsir menyangkal dan mengabaikan adanya bahasa kias di dalam Alkitab.
Contoh: Aliran bidat ANAK-ANAK ALLAH (Children of God) berusaha menafsirkan syarat menjadi murid secara literal.
Tipologi
Metode tipologi adalah menganggap tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa, ketetapan-ketetapan, ataupun benda-benda sejarah di dalam Alkitab sebagai contoh untuk orang-orang di kemudian hari atau sebagai gambaran dan hal-hal yang akan terjadi kemudian. Tipologi berlaku bukan hanya untuk meng-gambarkan Yesus Kristus, tetapi juga untuk menggambarkan jemaat/orang percaya, dan Gereja Tuhan.20

Pengertian tipologi tersebut di atas didasarkan pada pengertian bahwa sebagaimana para nabi bernubuat untuk sesuatu yang lebih penting dan lebih besar dari apa yang digambarkannya yang akan terjadi di masa depan, demikian peristiwa, pelaku, benda yang terdapat dalam PL menggambarkan sesuatu yang lebih penting dan lebih besar dari peristiwa, pelaku, benda terse-but di masa depan. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa tipologi menunjuk-kan suatu korespondensi antara orang atau peristiwa yang ada pada masa lalu dengan yang ada pada masa kini bahkan sampai ke masa depan.
Eksegesis
Metode eksegesis adalah suatu usaha penerapan prinsip-prinsip herme-neutik yang benar terhadap teks Alkitab di dalam bahasa aslinya, dengan tujuan pokok untuk memahami dan menyatakan makna yang dimaksudkan oleh penulisnya.21

 

HERMENEUTIKA BIBLIKA—KOMPREHENSIF—PROFESIONAL DALAM PENGERTIAN
Pengertian akan istilah Hermeneutika Biblika- Komprehensif – Profesional
Sesungguhnya bukanlah sebuah pendekatan hermeneutika yang baru. Namun pendekatan hermeneutika sedemikian dikategorikan sebagai pondasi yang terbaik bagi seorang penafsir dalam membangun sebuah penafsiran Alkitab yang bertanggungjawab. Pondasi Hermeneutik ini dimaksud untuk memproteksi penafsir dari kecenderungan mengedapankan asumsi dalam menafsir. Sebuah pendekatan hermeneutika yang meletakkan pendekatan penafsiran secara proporsional dengan maksud menemukan makna yang di-inginkan oleh Allah lewat penulis Alkitab tersebut.
Proporsi Aspek Biblika: Alkitab membuka dirinya untuk dimengerti lewat penafsiran. Namun penafsiran yang dilakukan tidak boleh terlepas dari tuntunan Roh Kudus (2 Petrus 1:20-21). Penafsir boleh mendekati Alkitab dengan keberadaan ilmu yang dimilikinya, namun hasil dari penafsiran harus selalu menghasilkan keberadaan maksud Allah semata.
Proporsi Aspek Komprehensif: Penafsiran tidak terlepas dari hubungan ayat dengan tiap –tiap ayat, pasal dengan tiap –tiap pasal hingga kepada kita dengan keutuhan Alkitab secara keseluruhan. Alkitab tidak pernah berten-tangan dengan kebenaran yang melekat padanya; Alkitab adalah kebenaran dan selalu benar, apabila ada asumsi tentang pertentangan yang ada di dalamnya maka bukanlah Alkitab yang mempertentangkan dirinya, namun penafsir itu sendirilah yang sedang mengktualisasikan keterbatasannya, kelemahannya dan ketidak sempurnaannya.
Proporsi Aspek Profesional: Melakukan pendekatan hermeneutik sesuai dengan kaidah –kaidah hermeneutika yang baik. Contohnya, menempatkan kitab kitab syair sebagaimana seharusnya menafsirkan kitab syair; memper-hatikan gaya bahasa, genre tujuan penulisan, mempertimbangkan latar belakang penulisan dan lain sebagainya.
Propfesional dalam melakukan penafsiran dimaksudkan bahwa penafsir memiliki ketetapan hati untuk tidak akan berhenti belajar, tidak akan menutup diri untuk koreksi dari penafsir yang lain dan juga memiliki sikap yang konsisten untuk menempatkan Alkitab pada tempatnya sebagai Firman Allah yang hidup.

 

Urgensi Penafsiran Komprehensif – Blibika - Profesional
Blok "Matius 25:14-30"
Pada bagian ini kita coba mengeluarkan Matius 25:14-30 dari konteksnya. Artinya kita akan meneliti bagian ini sebagai satu kesatuan yang berdiri sendiri, yaitu sebuah kisah perumpamaan yang akan ditafsirkan apa adanya tanpa mempertimbangkan konteks pasal 25 maupun pasal 24. Para peneliti Alkitab ITB akan menemukan bahwa LAI memberi judul Matius 25:14-30 "Perumpamaan tentang talenta." Dengan cepat bisa disimpulkan bahwa kisah tersebut berbicara tentang talenta yang diberikan seorang tuan kepada tiga hambanya dan tindakan yang berbeda dari mereka dalam menanggapi pem-berian tersebut.
Pernyataan Yesus ini populer dikhotbahkan oleh para Pemimpin Kristen. Penulis melakukan pencarian dalam bahasa Indonesia menggunakan portal "bing" pada tanggal 9 September 2015, maka ditemukan 2.920 hasil yang membahas tentang bagian ayat ini. Saat menggunakan bahasa Inggris, maka ditemukan commentary sebanyak 567.000. Jumlah yang sangat fantastis untuk satu bagian Alkitab yang terdiri dari 17 ayat.
Melihat fakta di atas, mengapa dirasa perlu untuk melakukan penelitian lagi? Tentu bagian-bagian lain dalam Alkitab juga sudah begitu melimpahnya mendapatkan perhatian – bahkan demikian dengan topik-topik yang ada dalam jurnal ini. Apa yang hendak dipaparkan dalam jurnal ini adalah bagaimana proses penelitian Biblika yang Komprehensif tersebut berlangsung. Walaupun bisa saja sebagian informasi dalam artikel ini bisa dipergunakan sebagai bahan khotbah namun tujuan akhirnya bukanlah kelengkapan informasi itu tetapi timbulnya semangat belajar menyelidiki Alkitab secara Biblika-Komprehensif yang berkelanjutan.


PENUTUP
Sebagai jurnal ilmiah teologi, maka setiap pembaca dapat memberikan penilaian terhadap isi jurnal ini, memberikan kritik dan saran apakah penulis-penulis telah menerapkan pendekatan hermeneutik yang sehat di dalam memahami Alkitab.
Semoga jurnal ini memberkati pembaca, dan memberikan sumbangsih bagi pendewasaan iman dan kemajuan Teologi bagi kemuliaan Nama Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat membaca.


Dr. Ir. Stephanas Budiono, M.Th.
Ketua STTIA Surabaya